Peningkatan dan Pengembangan Karier bagi para Eksekutif

Gambar ini bisa diganti menurut selera dan keinginanmu. Bisa tentang Sekolahmu, Teman-temanmu, Kegiatanmu, sampai Keluargamu tercinta.

Suasana Belajar di dalam Kelas Yunior

Gambar ini bisa diganti menurut selera dan keinginanmu. Bisa tentang Sekolahmu, Teman-temanmu, Kegiatanmu, sampai Keluargamu tercinta.

Fresh Graduate yang siap menghadapi tantangan Karier dan Profesi masing-masing

Gambar ini bisa diganti menurut selera dan keinginanmu. Bisa tentang Sekolahmu, Teman-temanmu, Kegiatanmu, sampai Keluargamu tercinta.

Suasana belajar di dalam Collage yang sangat menyenangkan

Gambar ini bisa diganti menurut selera dan keinginanmu. Bisa tentang Sekolahmu, Teman-temanmu, Kegiatanmu, sampai Keluargamu tercinta.

Pertemuan para Ilmuan dan Cendikiawan International Summit di Jepang

Gambar ini bisa diganti menurut selera dan keinginanmu. Bisa tentang Sekolahmu, Teman-temanmu, Kegiatanmu, sampai Keluargamu tercinta.

< Mentor Massage > Jangan lupa belajar setiap hari, ulangi lagi pelajaran dari Sekolah. Blog ini akan mendampingimu untuk Mencapai Prestasi....!
Tampilkan postingan dengan label Serba-serbi Dunia Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serba-serbi Dunia Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 November 2012

Duh.. UN tak Terasa Sudah di depan Mata


Kemendikbud saat ini telah menentukan kapan Ujian Nasional (UN) akan berlangsung. Pernyataan ini telah di sepakati oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh. Ujian Nasional akan diselengarakan dari Maret - Mei pada 2013 mendatang dari jenjang SD - SMA.

Di dalam UN pada 2013 nanti, akan ada perubahan yang telah di revisi pada UN 2012 yang lalu. Menteri menuturkan ada 4 Poin pelaksanaan UN yang baik dan jujur. 

Poin pertama, soal-soal dan kunci jawaban pada UN 2013 nanti dijamin keamanannya serta kerahasiaanya karena jika berkasnya sudah ketahuan, maka kredibilitas pada UN nanti akan berkurang bahkan hilang. 

Poin kedua, melingkupi pada ketepatan distribusi soal-soal UN yang harus tepat waktu diantar sampai ke sekolah-sekolah sesuai dengan jenjangnya selain itu menteri juga memperhatikan jumlah berkas soal dan lembar jawaban harus pas dan ketepatan bahan yang akan di ujikan.



Pada poin ketiga, ketika pelaksanaanya, UN harus berjalan dengan lancar karena jika semua soal UN sudah dibagikan namun ternyata ada yang salah kode, maka hal tersebut memakan waktu siswa yang akan mengikuti UN sehingga kekurangan waktu untuk mengerjakan soal dan akibatnya siswa tidak selesai mengikuti ujian padahal batas waktu untuk mengerjakan harus 2 jam saja.



Pada poin terakhir, hal ini berkenaan dengan nilai raport siswa. Menteri berharap pada sekolah agar guru-guru dalam memberikan nilai pada siswa adalah hasil kemampuan dari siswa tersebut bukan dilihat dari segi apapun. Menteri juga menambahkan nilai raport pada siswa untuk tidak di cekungkan atau di cembungkan dengan realistisnya.



Menteri juga mengatakan bahwa UN bukanlah hal yang mutlak untuk menentukan kelulusan. Kelulusan itu sebenarnya ditentukan dengan satuan pendidikan yang meliputi ketuntasan kegiatan belajar-mengajar, sikap siswa itu sendiri dan tentu saja Ujian Nasional. Jadi bukan hanya UN saja namun 2 hal itu bersama dengan UN lah yang menentukan kelulusan.



Untuk rencana soal pada UN nanti diperkirakan akan lebih ketat dari sebelumnya. Ketika UN tahun 2012 dengan 5 kode soal yang berbeda, namun soal UN tetap sama walaupun di acak. Untuk UN 2013 ini, pemerintah akan membuat 20 tipe soal yang sama sekali berbeda dari tiap kode dari A - T. Rencana ini dibuat pemerintah agar siswa mampu menyerap semua kompetensi dasar yang di ujikan nanti sehingga siswa tidak ada kesempatan untuk membuka kunci jawaban apalagi menyontek. Sungguh tantangan berat untuk UN 2013 ini.




Berikut Perkiraan jadwal tryout UN - Ujian Nasional yang diselenggarakan Maret- Mei 2013 mendatang dari berbagai jenjang SD - SMA:


1. Tryout UN 1 untuk jenjang SD diadakan pada tanggal: 21 - 23 Maret 2013

Tryout UN 2 untuk jenjang SD diadakan pada tanggal : 15 - 17 April 2013


UN utama untuk jenjang SD diadakan pada tanggal: 13 - 15 Mei 2013


UN susulan untuk jenjang SD diadakan pada tanggal : 20 - 22 Mei 2013



2. Tryout UN 1 untuk jenjang SMP diadakan pada tanggal: 21 - 23 Februari 2013

Tryout UN 2 untuk jenjang SMP diadakan pada tanggal : 18 - 20 Maret 2013


UN utama untuk jenjang SMP diadakan pada tanggal: 06 - 10 Mei 2013


UN susulan untuk jenjang SMP diadakan pada tanggal: 13 - 16 Mei 2013



3. Tryout UN 1 untuk jenjang SMK diadakan pada tanggal : 21 - 23 Februari 2013

Tryout UN 2 untuk jenjang SMK diadakan pada tanggal: 18 - 20 Maret 2013


Tryout UN 1 untuk jenjang SMA diadakan pada tanggal : 25 - 27 Februari 2013


Tryout UN 2 untuk jenjang SMA diadakan pada tanggal: 20 - 23 Maret 2013


UN utama untuk jenjang SMA /SMK diadakan pada tanggal: 30 April s/d 4 Mei 2013


UN susulan untuk jenjang SMA/SMK diadakan pada tanggal: 06 - 10 Mei 2013


Untuk para siswa, persiapkanlah dirimu dari sekarang untuk menghadapi UN nanti dengan belajar sungguh-sungguh agar mendapatkan nilai UN yang memuaskan. Untuk para guru dan orang tua, cobalah anda dongkrak semangat anak untuk mau belajar dan beri motivasi untuk belajar. Karena dengan dorongan yang bersifat mendukung, anak akan senatiasa belajar dengan penuh keyakinan bukan dengan paksaan.


(Dikutip dari berbagai sumber)

Senin, 19 November 2012

Mental "Pengemudi", Cara Sukses di Dunia Kerja


KOMPAS.com - Menjadi seorang sarjana pasti memberikan sebuah kebanggaan tersendiri bagi setiap orang. Namun, benarkah gelar sarjana merupakan sebuah jaminan atas keberhasilan hidup seseorang? Akademisi dan praktisi bisnis, Rhenald Kasali mengungkapkan bahwa gelar sarjana bukanlah satu-satu jaminan sebuah kesuksesan.
"Di Indonesia saat ini, menjadi seorang sarjana bisa jadi sebuah kebanggaan, karena dengan ini gengsi dirinya bisa bertambah. Padahal belum tentu Anda bisa bertahan di dunia kerja yang sebenarnya," ungkap Rhenald Kasali, dalam acara peluncuran buku beberapa waktu lalu di Jakarta.

Menurut Rhenald Kasali,  dalam kehidupan nyata kesuksesan sebenarnya ditentukan oleh pola pikir seseorang dalam menjalani kehidupannya. Pola pikir akan menentukan arah, pandangan, serta visi dan misi yang kreatif dan inovatif untuk mencapai kesuksesan dalam hidup. Maka ia menyarankan orang tua tidak hanya berorientasi dalam menyekolahkan anaknya semata demi gelar. Lebih dari itu, Orang tua juga harus membentuk pola pikir anak.  

"Ada tiga tipe manusia saat berpikir. Hanya dua persen manusia yang benar-benar berpikir, tiga persen manusia berpikir bahwa mereka sudah berpikir dan sisanya lebih baik mati daripada berpikir. Tipe ini akan akan diuji di kehidupan nyata dan bukan di mata kuliah," tegasnya. 

Jika dianalogikan dengan kendaraan, untuk mencapai kesuksesan, Anda tak boleh hanya puas menjadi seorang penumpang saja. Berusahalah untuk menjadi seorang pengemudi bagi hidup Anda sendiri. Menjadi seorang penumpang akan membuat Anda mudah lengah, malas, atau bahkan tertidur di dalam kendaraan karena kursinya yang terlalu empuk. Dan yang paling parah, sebagai penumpang Anda akan dimanjakan dan diberi beragam fasilitas yang baik. 

Jika dalam hidup nyata, sikap sebagai penumpang ini tak diperbaiki maka selamanya Anda tak akan mendapatkan kesuksesan. Anda terbiasa untuk mendapatkan semua fasilitas yang berkecukupan tanpa harus bekerja keras, tidak punya visi dan misi dalam hidup karena sudah berada di zona nyaman dalam karier. "Karier Anda akan cenderung stuck atau justru menurun karena tidak ada inovasi baru yang diberikan," jelasnya. 

Sebaliknya, sebagai seorang pengemudi, Anda tidak bisa lengah sedikit pun. Anda juga tidak bisa tertidur saat mengemudi, dan yang pasti sebagai seorang pengemudi sudah pasti harus tahu seluk beluk, risiko dan rute perjalanan yang akan ditempuh. Memiliki mental sebagai pengemudi dalam kehidupan akan membuat Anda kreatif, inovatif dan berani ambil risiko dengan keputusan yang tepat. "Orang yang punya mental seperti inilah yang akan sukses," tukasnya.

Penulis : Christina Andhika Setyanti | Rabu, 15 Agustus 2012 | 16:00 WIB

Sabtu, 17 November 2012

Ramai-ramai Les Pelajaran


KOMPAS.com - Mayoritas siswa SMA menambah kegiatannya dengan les atau kursus. Herannya, les yang umumnya mereka lakukan itu adalah les mata pelajaran di sekolah, bukan les bermusik, menari, berolahraga, atau menggambar misalnya.

Lho sudah seharian belajar di sekolah, buat apa les lagi? Itu anehnya. Hasil survei Litbang Kompas pada November lalu antara lain menunjukkan, 87,8 persen dari 770 responden menyatakan pelajar perlu ikut bimbingan belajar atau bimbel di luar sekolah. Bimbel diperlukan terutama untuk menambah pemahaman mereka pada materi pelajaran.

Tujuan itu sesuai dengan alasan Yohana Christina Vidianasita dan Hasyim Rizky Isfandari, yang antara lain menyebut les untuk mendalami materi pelajaran.

”Ada guru yang kalau menjelaskan agak sulit kami mengerti, mau bertanya malas. Ya aku pilih mencari les saja,” kata Yohana, siswi kelas XII SMA Tarakanita, Citra Raya, Cikupa, Kabupaten Tangerang, Banten.

Ia memilih tempat les di dekat sekolah. Usai sekolah ia les setiap hari, kecuali Minggu, untuk belajar Matematika, Fisika, Kimia dan Bahasa Inggris, selama dua jam. Yohana tak sendiri, ada temannya yang juga les di tempat itu dengan biaya Rp 500.000 per bulan.

”Suasana belajar di tempat les lebih enak, gurunya menerangkan mata pelajaran dengan jelas. Kalau aku belum mengerti bisa bertanya sampai benar-benar paham,” lanjut cewek yang mengambil jurusan IPA itu.

Menjelang ujian nasional, ada tambahan pelajaran di sekolah. Namun bagi sebagian siswa, tambahan pelajaran selama 1, 5 jam itu pun masih kurang. ”Kebanyakan hanya teori, membahas soalnya jarang,” katanya.

Sementara Hasyim yang merasa kurang menguasai materi pelajaran, memilih bimbel. ”Sekalian saja, gue pengin dapat banyak latihan soal berikut pembahasannya untuk persiapan tes masuk perguruan tinggi negeri,” ujar siswa kelas XII IPS SMAN 28 Jakarta itu. Untuk bimbel selama sekitar 11 bulan, ia membayar sekitar Rp 6 juta, atau Rp 545.000 per bulan.

Kualitas guru

Lebih dari separuh responden mengaku bimbel diperlukan karena materi pelajaran yang diberikan di sekolah tak cukup dimengerti. Pemahaman anak yang kurang terhadap mata pelajaran tertentu, dikhawatirkan membuat nilainya tak mencapai standar. Kurangnya pemahaman itu terjadi antara lain karena kurangnya waktu belajar atau guru kurang berkompeten.

Soal kemampuan guru, sebagian responden (47,9 persen) menyatakan cukup memadai, 20,3 persen responden menilai kemampuan guru biasa saja, dan 29,3 persen responden bilang kemampuan guru kurang memadai.

Dalam polling itu, responden mengeluhkan kualitas guru dan kurikulum. Mereka menyatakan dua hal itu sebagai problem pendidikan nasional.

Satu dari lima responden mengatakan, kualitas pendidik masih bermasalah baik di tingkat pendidikan maupun cara mengajar. Teknik mengajar guru yang didominasi metode ceramah, membuat siswa kurang terstimulasi untuk mengembangkan pengetahuannya.

Kualitas guru yang diragukan responden juga tercermin dari pendapat mereka tentang kemampuan bimbel membantu siswa lulus ujian nasional. Separuh dari responden yakin, keikutsertaan di bimbel akan membuat siswa mampu menjawab soal ujian nasional dengan mudah.

Kesimpulan dari pendapat itu adalah ketidakmampuan guru di sekolah dalam memberi materi yang mudah dimengerti siswa. Responden lebih percaya pada pengajar bimbel.

Keraguan mereka atas kemampuan sebagian guru itu diakui J Sumardianta, guru SMA Kolese de Britto, Yogyakarta. ”Banyak guru terperangkap pada materi pelajaran yang termuat dalam kurikulum. Materi pelajaran yang harus ia berikan kepada siswa banyak sekali,” tuturnya.

Situasi tersebut ditambah metode atau gaya mengajar guru yang menyamaratakan kemampuan semua siswa, mengakibatkan siswa bosan.

Menurut Sumardianta, guru harus mengubah cara mengajar. Guru harus kreatif, inovatif, dan inspiratif bagi siswa sehingga siswa termotivasi mempelajari ilmu yang diajarkan. Sebagai pengajar Sosiologi, ia tak memakai teks buku mata pelajaran dari penerbit.

”Saya membuat modul Sosiologi untuk kelas X menjadi 21 lembar. Itu pun untuk dua semester, yang penting teori esensial masuk di modul,” kata guru yang sering menulis artikel di media massa itu.

Ia memberi tugas siswa mencari data berkait Sosiologi yang dipelajari lewat berbagai sumber, misalnya dari novel. Salah satu novel yang wajib dibaca siswanya berjudul The City of Joy karya Dominique Lapierre.

Siswa dibagi dalam kelompok. Mereka mendiskusikan isi buku dan mempresentasikan hasilnya di depan kelas. Bahan itu juga diujikan untuk ulangan. ”Cara itu tak monoton dan membuat siswa ingin tahu, lalu paham esensi pelajaran saya,” katanya.

Mengenai fenomena siswa ikut bimbel, Sumardianta berpendapat bisa dipahami. Meski menurut dia, bimbel tak harus diikuti sampai setahun. ”Siswa kami juga ada yang ikut bimbel. Umumnya mereka lakukan itu untuk tes masuk perguruan tinggi negeri.”

Teman sebaya

 Untuk mengatasi siswa yang kurang memahami mata pelajaran di sekolah, SMA Kolese de Britto menerapkan tutorial dengan teman sebaya. Siswa yang pintar dalam mata pelajaran terkait membantu teman yang kurang paham. Tutorial diadakan setelah pembelajaran guru selesai.

”Program tutorial teman sebaya sudah menjadi tradisi di sini. Mereka yang punya kelebihan, wajib membantu teman yang perlu bantuan dalam memahami pelajaran,” kata Sumardianta. Tutorial tak harus dilakukan di kelas, tetapi bisa di kantin atau gazebo sekolah. (PALUPI PANCA ASTUTI/Litbang Kompas/ SOELASTRI SOEKIRNO)



Sumber :Kompas Cetak
Editor :Caroline Damanik

RESEP SUKSES BELAJAR

RESEP SUKSES BELAJAR

Math so Easy

MOTIVASI BELAJAR

MOTIVASI BELAJAR

Waktunya Belajar